Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2011

Beberapa waktu yang lalu sempet hunting foto di Dieng bareng temen2 dari Arkana Photo yaitu Afif, Maulana, dan juga Farhan plus seorang teman baru merangkap sebagai local guide yaitu Fa’i. Cuaca yang senantiasa berkabut cukup menjadi tantangan bagi kita untuk memotret landscape, tapi ya justru itu yang bikin menarik.

Kebun Teh Tambi

Diawali dengan jalan2 di kebun teh Tambi, cuaca di sore hari cukup mendung dan berkabut, bahkan hujan pun sempat turun beberapa saat. Namun hal itu tidak menyurutkan niat untuk mendapatkan foto yang indah dari perkebunan teh tersebut. Perkebunan ini terletak kurang lebih 16 km sebelah utara Kota Wonosobo, di kaki Gunung Sindoro sebelah barat. Luas kebun teh ini adalah 829,14 hektar dan berada pada ketinggian sekitar 1300 mdpl. Pada awalnya perkebunan ini adalah milik Belanda (pada tahun 1885) dengan nama Bagelen Thee & Kina Maatschappij.

Kompleks Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna merupakan kompleks candi Hindu yang digunakan untuk menyembah Dewa Siwa dan dibangun pada tahun 809 Masehi. Kompleks candi ini pertama kali ditemukan oleh tentara Inggris yang bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814. Mendung masih menghiasi langit. Beberapa jepretan menggunakan kamera IR (infrared) pun sempet dilakukan, biar keliatan lebih menarik….walopun itu kamera pinjeman sih (punya Farhan). Sore itu sempet ujan, jadi hunting segera diselesaikan dan diulang pada hari berikutnya. Namanya di alam terbuka, cuaca adalah faktor “X” yang susah untuk diprediksi.

Telaga Warna

Telaga ini cukup menarik untuk diabadikan, airnya yang berwarna hijau keputihan memberikan nuansa yang berbeda dari telaga/ danau lainnya. Warna yang tercipta kemungkinan merupakan pengaruh dari belerang/ sulfur yang terkandung di dalamnya, oleh karena itu juga bau tidak sedap (belerang) terkadang tercium di sekitar telaga.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang terletak tidak jauh dari Telaga Warna. Kawah ini merupakan objek wisata kawah yang paling terkenal di Dieng. Hal ini dikarenakan kawah ini termasuk aman karena tingkat belerangnya yang cukup rendah dan juga fasilitas yang tersedia di sekitar kawah Sikidang cukup lengkap, seperti mushola, toilet, area parkir yang luas, dan juga tempat untuk membeli oleh-oleh. Selain kawah Sikidang, masih ada beberapa kawah lainnya yaitu kawah Timbang, Sileri, Sinila, Sibanteng, dan juga Candradimuka. Beberapa kawah juga menyimpan potensi bahaya gas beracun.

Advertisements

Read Full Post »

Gunung Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 25km dari Kota Jogja. Dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, suhu udara disana kurang lebih sekitar 23-27 derajat Celicius sehingga tidak terlalu panas atau pun dingin. Dari Kota Jogja, lokasi ini dapat dicapai melalui Jalan Wonosari kemudian naik ke arah bukit Patuk dan belok kiri ke arah Timur melewati Desa Ngoro-oro yang identik dengan tower-tower stasiun pemancar televisi. Jika datang dari arah Wonosari, maka lokasi Gunung Nglanggeran dapat diakses melalui jalan pintas di persimpangan Sambipitu dengan mengambil jalan ke arah Dusun Bobung yang terkenal dengan kerajinan topengnya.

Untuk mencapai puncak, dapat ditempuh dengan melakukan pendakian kurang lebih selama satu jam. Beberapa alat bantu seperti tali dan tangga sederhana telah disediakan guna mempermudah melalui medan yang bisa dibilang “a little bit tricky“. Keindahan yang disuguhkan sangat beragam, mulai dari bongkahan batuan besar yang menyusun gunung purba ini, sunset yang indah pada sore hari, hingga kerlap-kerlip lampu kota Jogja-Klaten-Solo pada malam hari.

Read Full Post »

Img_7451

Hahaha…bener2 niat ni yang bikin acara Art|Jog|11, sampe2 halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) digali kurang lebih 1,5 meter buat naruh kepala bayi raksasa yang terbuat dari tanah liat. Exhibition Hall TBY pun dirubah beberapa bagiannya menggunakan semacam partisi yang terbuat dari gypsum sehingga membentuk alur ruang pameran yang berbeda dari biasanya. Memang sudah jadi kebiasaan Art|Jog untuk memberikan kesempatan bagi salah satu commission artist-nya untuk membuat karya site specific dengan menyulap penampilan gedung Taman Budaya Yogyakarta. Tahun ini Eddi Prabandono yang dipercaya untuk menggarap karya besar itu. Selain Eddi, commission works lainnya, karya Krisna Murti juga hadir di dalam ruang pamer ART|JOG|11. 

Img_7437

Acara ini dibuka oleh salah satu patron Art Fair internasional yakni Lorenzo Rudolf (mantan direktur Art Basel; inisiator Art Basel Miami; mantan direktur ShContemporary – Shanghai dan Art Stage – Singapura). Art|Jog|11 berlangsung mulai tanggal 16 Juli hingga 29 Juli 2011. Sebanyak 3500 karya dari 1770 seniman diseleksi guna mengikuti pameran ini hingga akhirnya terpilih 241 karya dari 165 seniman yang dipamerkan. Berikut ini beberapa karya yang cukup menarik perhatian menurut saya pribadi, hehehe…

Read Full Post »

Habis dari Ranu Kumbolo (Semeru), niatnya mau langsung pulang ke Jogja naik bis malam. Berhubung sudah kemaleman, akhirnya nunggu pagi sekalian aja trus pulang naik kereta biar lebih irit. Bis malam dari Malang ke Jogja tu sekitar 80-100rb, lha kalo kereta ekonomi Penataran dari Malang ke Surabaya cuma 4rb, trus habis itu disambung Sri Tanjung Surabaya-Jogja yang harganya cuma 24rb. Bener2 penghematan istimewa kan…hahaha, lumayan sisanya bisa buat kulineran. Kebetulan pas ke stasiun belum sarapan, yaudah mampir deh di Pangsit Mie Bromo Pojok di Jalan Patimura No. 53, Malang.

Img_7422

Resto ini buka lumayan pagi, buktinya jam 9 pagi lewat situ restonya udah buka. Menu nya juga macem2 dan tiap menu punya cita rasa beda2. Jadi seakan2 mie yang digunakan itu beda2, ada yg taste nya sedikit asin, ada yg rada manis…menyesuaikan menu nya. Entah itu emang mie nya yg beda atau karena proses masak nya yg bikin bumbu benar2 meresap. Kebetulan kemaren dateng berempat dan pesen menu yg beda2 semua. Saya pesen pangsit mie sosis keju (foto ke-2 di bawah), rasanya mantab…mirip spagetti tapi cenderung manis, kalo saya sih kuah nya ga perlu dipake. Ada juga pangsit mie ayam jamur (foto ke-3 di bawah), taburan ayam dan jamurnya bikin ngiler. (more…)

Read Full Post »

Rabu, 13 Juli 2011

Dari daerah Ngadas, pos pendakian Ranu Pani bisa dicapai dalam 30-45 menit menggunakan motor menyusuri punggungan bukit dengan jurang di setiap sisinya, atau kalo berangkat berbanyak bisa sewa pick up yang biasa buat angkutan sayur mayur disana. Akses cukup sulit karena jalanan yang rusak, tapi setelah masuk ke wilayah Lumajang….jalanan jadi lebih enak soalnya sudah diaspal dengan baik.

Img_7246ed

Tiba di Ranu Pani, ketemu rombongan anak UGM juga yang baru saja turun dari Mahameru. Berhubung sudah jam 2 siang, langsung deh lapor ke pos pendakian dan mulai jalan. Perjalanan dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo kurang lebih ditempuh dalah 3 jam dengan speed normal. Kurang lebih jam 5 tiba di Ranu Kumbolo, suhu udara sudah terasa cukup dingin. Suasana Ranu Kumbolo cukup rame sore itu, ada rombongan dari Jogja, Malang, dan juga Jakarta. Menjelang maghrib tenda pun selesai dibangun, dengan bantuan dari seorang bapak yang ternyata sama2 berasal dari Jogja. Maklum…tenda yang dibawa ukuran jumbo (6-7 orang), padahal cuma berangkat berdua, dah gitu patoknya entah tertinggal dimana, haha…

Suasana petang menjelang malam di Ranu Kumbolo semakin meriah dengan adanya api unggun yang dibuat oleh rombongan keluarga dari Jogja. Kalo ada yang tau toko adventure Kingkong di Jogja, salah satu dari rombongan keluarga tersebut adalah pemilik dari toko tersebut. Tapi karena pindah rumah, Kingkong sekarang dah tutup. Api unggun nampaknya jadi senjata yang ampuh untuk melawan hawa dingin yang mencapai suhu 15 derajat Celcius. Sore aja segitu, gimana malemnya ya…hehe (*sayang nya ga bawa termometer buat ngecek, yang bawa termometer rombongan lain)

Daripada lama2 kedinginan di luar, meding masuk ke tenda trus tidur biar bangun2 dah sunrise. Kata beberapa orang disitu suhu malam itu emang bakalan dingin soalnya menjelang purnama. Walopun belom tau korelasi antara purnama dengan suhu udara, tapi emang bener sih jadi dingin banget, sekitar jam 1 dini hari dinginnya ga ketulungan, udah komplit tidur pake penutup kepala, kaos tangan, kaos kaki, sleeping bag…tetep aja kaki kerasa dingin. Bahkan kalau beruntung, suhu di Ranu Kumbolo pada bulan Juli-Agustus bisa mendekati nol derajat Celcius dan menyuguhkan fenomena embun es. Kondensasi embun yang menempel di tenda membeku dan menjadi kristal2 es mampu memberikan nuansa yang tak terlupakan.

when the sun rises….

Read Full Post »

Mumpung lagi di Malang, kudu nyobain kulinernya lah. Walopun burger bukan kuliner khas Malang, tapi yang ini cukup mengundang lidah untuk mencoba. Burger Buto…sebuah resto di Jalan Sarangan No. 27 Malang menyuguhkan aneka hidangan dengan menu spesial burger berukuran jumbo.

Img_7232

Burger Buto sendiri adalah menu burger dengan ukuran diameter 17cm dengan harga Rp 10.000,- hingga Rp 13.500,- dan cukup lah untuk porsi perorangan. Kalo pengen porsi keroyokan…bisa coba yang menu Buto Ijo, kali ini burgernya diameter 25cm. Kalo suka yang panjang….ada menu Buto Long dan Buto Keceng. Buto Long bentuknya tidak terlalu lebar, mirip hotdog tapi panjangnya 40cm, kalo yg Buto Keceng panjangnya 60cm. (more…)

Read Full Post »

Tema YGF kali ini adalah “therapy for life“, hal ini memiliki makna bahwa gamelan merupakan sarana yang dapat membantu manusia untuk memperbaiki hidup dan juga menuntun manusia untuk kembali ke kehidupan yang harmonis. Gamelan tidak hanya dipandang sebagai sebuah alat musik, melainkan memiliki filosofi yang mengedepankan harmonisasi dan nilai2 kemanusiaan mengenai kebersamaan, kesabaran, dan juga sopan santun.

Acara yang dikemas dengan sangat baik ini, dari tahun ke tahun selalu menyedot pengunjuk yang cukup banyak. Selain format pertunjukan yang dilakukan dalam concert hall, faktor bebas biaya masuk alias 100% free sungguh membuat acara ini istimewa. Hal ini terbukti dari penuhnya pengunjung selama 3 hari YGF 2011 ini. Berikut ini liputan ringkas dari 16th YGF 2011 plus foto tiap2 performer-nya…

Hari Pertama – Kamis, 7 Juli 2011

Read Full Post »

Older Posts »